Datang ke Desa Pentingsari bukan hanya soal menikmati udara sejuk di lereng Gunung Merapi. Di balik sawah, rumah-rumah warga, dan suasana pedesaannya, tersimpan berbagai tradisi Jawa yang masih dipraktikkan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Seni dan budaya Desa Pentingsari menjadi salah satu kekuatan utama kawasan wisata yang berada di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman ini.
Pentingsari tidak mengandalkan wahana buatan sebagai daya tarik utamanya. Kehidupan masyarakat, kebiasaan sehari-hari, kesenian, pertanian, serta nilai kebersamaan justru menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Pengunjung bisa belajar memainkan gamelan, menari, membatik, membuat kreasi janur, membuat wayang dari rumput, hingga mengikuti kenduri bersama masyarakat.
Kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan, tetapi menjadi cara menarik untuk memperkenalkan warisan budaya Jawa secara langsung.
Lalu, seni dan tradisi apa saja yang masih bertahan di Pentingsari? Dan bagaimana masyarakat menjaganya agar tidak berhenti hanya sebagai cerita masa lalu?
Budaya Menjadi Bagian dari Kehidupan Desa Pentingsari
Salah satu hal menarik dari Pentingsari adalah budaya tidak ditempatkan hanya sebagai tontonan.
Situs resmi Desa Wisata Pentingsari menyebut tradisi dan kesenian sebagai budaya yang masih dijalani dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika desa wisata dikembangkan, unsur kehidupan tersebut kemudian dikemas menjadi pengalaman edukatif bagi pengunjung.
Pendekatan tersebut membuat budaya terasa lebih dekat.
Wisatawan tidak hanya duduk melihat pertunjukan dari kejauhan. Mereka dapat memegang alat musik, mencoba gerakan tari, membuat kerajinan, memasak, hingga mengikuti kehidupan keluarga melalui program live-in.
Penelitian Universitas Sebelas Maret juga menunjukkan bahwa Pentingsari memanfaatkan modal budayanya untuk mendukung pariwisata edukasi.
Gamelan menjadi salah satu contoh penting bagaimana warisan budaya dapat tetap dipelajari sekaligus menjadi bagian dari kegiatan wisata.
Dengan begitu, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menyimpan benda lama atau mengadakan pertunjukan pada hari tertentu. Budaya tetap digunakan, diajarkan, dan diperkenalkan kepada orang lain.
1. Gamelan dan Karawitan yang Tetap Bergema
Gamelan menjadi salah satu kesenian yang cukup identik dengan pengalaman budaya di Pentingsari.
Pengunjung dapat mengikuti aktivitas belajar gamelan bersama masyarakat. Tidak hanya mengenal instrumennya, peserta juga diperkenalkan pada cara bermain serta konteks budaya di balik kesenian tradisional Jawa tersebut.
Dalam paket budaya Pentingsari, kesenian karawitan juga menjadi bagian dari aktivitas yang ditawarkan. Wisatawan dapat menikmati pertunjukan sekaligus mencoba memainkan gamelan sendiri.
Cara seperti ini cukup efektif untuk menjaga kesenian tradisional.
Orang yang sebelumnya hanya pernah melihat gamelan di museum, televisi, atau acara resmi bisa merasakan langsung bagaimana memainkan instrumen bersama-sama.
Mereka juga belajar bahwa gamelan bukan permainan individu, tetapi membutuhkan ritme, konsentrasi, dan kerja sama antarpemain.
Bagi masyarakat desa, aktivitas tersebut sekaligus membuka ruang regenerasi. Alat musik terus dimainkan, pelatih tetap mempunyai ruang untuk mengajarkan keterampilannya, sementara anak-anak dan pemuda memiliki alasan untuk terus mengenalnya.
2. Tari Tradisional dan Tari Punokawan
Selain gamelan, seni tari masih menjadi bagian penting dari budaya Pentingsari.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencantumkan tarian penyambutan serta kegiatan belajar tari tradisional sebagai atraksi budaya di Desa Wisata Pentingsari.
Salah satu yang diperkenalkan kepada wisatawan adalah Tari Punokawan. Paket budaya resmi Pentingsari juga mencantumkan pertunjukan tari tradisional Jawa yang dapat dinikmati pengunjung sekaligus dipelajari secara langsung.
Pendekatan ini membuat tari tidak berhenti menjadi pertunjukan panggung.
Ketika wisatawan mencoba gerakan sederhana, mereka mulai memahami bahwa tarian tradisional memiliki pola, ekspresi, irama, serta nilai budaya tertentu. Aktivitas tersebut juga menjadikan interaksi antara seniman desa dan pengunjung lebih dekat.
Bagi generasi muda Pentingsari, keberadaan aktivitas wisata budaya menciptakan ruang untuk terus belajar dan tampil.
Seni tari akhirnya mempunyai fungsi ganda: sebagai warisan budaya sekaligus pengalaman edukatif yang memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
3. Tradisi Kenduri yang Menjaga Kebersamaan
Budaya Pentingsari tidak hanya berbentuk seni pertunjukan.
Ada pula tradisi sosial yang masih kuat, salah satunya kenduri atau yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai kenduren.
Kenduri dilakukan dalam berbagai momentum kehidupan masyarakat, seperti syukuran kehamilan dan kelahiran, hasil panen atau ternak, hingga kegiatan doa yang berkaitan dengan kematian. Hidangan biasanya disiapkan bersama, kemudian didoakan sebelum disantap.
Nilai utama kenduri sebenarnya bukan sekadar makan bersama.
Tradisi ini memperlihatkan hubungan sosial yang kuat di antara warga. Ada kebersamaan, rasa syukur, saling membantu, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Pentingsari kemudian memperkenalkan pengalaman kenduri kepada wisatawan.
Dalam paket budaya, pengunjung dapat mengikuti proses doa, memperoleh penjelasan mengenai makna dan filosofi hidangan, lalu makan bersama masyarakat. Pengemasannya dibuat lebih sederhana agar dapat diikuti wisatawan tanpa menghilangkan nilai dasarnya.
Penelitian UGM pada 2015 juga mencatat kenduri sebagai salah satu potensi budaya lokal Pentingsari bersama tradisi pernikahan, permainan anak, dan pengolahan kopi tradisional.
4. Wayang Suket, Janur, dan Kerajinan Tradisional
Tidak semua budaya harus berupa pertunjukan besar.
Di Pentingsari, keterampilan membuat benda-benda sederhana dari bahan sekitar juga menjadi bagian dari kegiatan budaya.
Salah satunya adalah wayang suket. Kata suket dalam bahasa Jawa berarti rumput. Wisatawan diajak berkreasi membuat bentuk wayang menggunakan material sederhana sekaligus mengenal wayang sebagai bagian dari kebudayaan Jawa.
Aktivitas kreasi wayang rumput tercatat sebagai salah satu atraksi budaya Pentingsari di Jadesta.
Ada pula keterampilan membuat kreasi dari janur, yaitu daun kelapa muda.
Janur mempunyai tempat yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa karena sering digunakan dalam berbagai acara dan dekorasi tradisional.
Di Pentingsari, kegiatan membuat kreasi janur dikemas menjadi aktivitas edukatif sehingga pengunjung dapat belajar langsung dari warga.
Hal sederhana seperti melipat, menganyam, atau membentuk janur sebenarnya mempunyai nilai penting dalam pelestarian budaya.
Jika keterampilan tradisional tidak lagi dipraktikkan, pengetahuan tersebut perlahan bisa hilang. Dengan menjadikannya aktivitas yang dapat dipelajari, masyarakat mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mewariskannya.
5. Membatik sebagai Pengalaman Budaya
Batik juga menjadi bagian dari pengalaman seni di Desa Wisata Pentingsari.
Jadesta mencantumkan kegiatan belajar membatik sebagai salah satu atraksi budaya yang dapat diikuti wisatawan. Situs resmi Pentingsari juga memasukkan kegiatan membatik dalam paket kerajinan lokal.
Wisatawan tidak hanya membeli produk jadi.
Mereka mendapat kesempatan memahami proses pembuatan batik dengan mencoba sendiri tahap-tahap dasarnya. Pendekatan seperti ini membuat orang lebih mudah menghargai kerumitan sebuah karya tradisional.
Dalam wisata berbasis budaya, pengalaman langsung memang memiliki nilai tersendiri.
Seseorang mungkin dapat membeli kain batik di banyak tempat. Namun ketika ia pernah mencoba menggambar pola, menggunakan canting, atau memahami proses pembuatannya, hubungan dengan produk budaya tersebut menjadi lebih personal.
Karena itu, membatik di Pentingsari bukan sekadar aktivitas kerajinan. Ia juga menjadi sarana pendidikan budaya.
6. Tradisi Merti Dusun dan Hubungan dengan Alam
Kehidupan masyarakat Pentingsari sangat dekat dengan lingkungan lereng Merapi.
Hubungan tersebut ikut tercermin dalam sejumlah tradisi masyarakat. Situs resmi Pentingsari menyebut Merti Dusun atau bersih desa sebagai salah satu tradisi yang diperkenalkan dalam kegiatan budaya.
Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur dan hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, serta nilai spiritual masyarakat.
Nilai serupa juga terlihat dari budaya gotong royong.
Menjaga jalan, lingkungan, sungai, pertanian, dan ruang bersama bukan hanya pekerjaan teknis. Bagi masyarakat pedesaan, kegiatan tersebut juga memiliki dimensi sosial karena dilakukan melalui kerja bersama.
Kehidupan pertanian semakin memperkuat hubungan antara alam dan budaya.
Penelitian mengenai potensi budaya Pentingsari menunjukkan bahwa praktik lokal seperti pembuatan kopi tradisional dan aktivitas terkait hasil pertanian juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Artinya, batas antara budaya dan kehidupan sehari-hari di Pentingsari sebenarnya sangat tipis.
Budaya tidak hanya muncul saat ada pertunjukan. Ia hadir ketika masyarakat bertani, memasak, berkumpul, bekerja bersama, dan mensyukuri hasil alam.
7. Kuliner Tradisional sebagai Warisan Budaya
Membicarakan budaya desa tentu kurang lengkap tanpa makanan.
Di Pentingsari, wisatawan dapat mengenal berbagai sajian tradisional seperti jajanan pasar, nasi liwet, serta minuman rempah. Paket budaya desa juga menawarkan pengalaman memasak menggunakan peralatan tradisional.
Kuliner memiliki peran penting karena resep sering diwariskan di dalam keluarga.
Situs resmi Pentingsari menyebut perempuan desa mempunyai peran besar dalam pengolahan hidangan tradisional dan jajanan pasar. Banyak keterampilan memasak diperoleh melalui resep turun-temurun yang kemudian menjadi bagian dari paket wisata dan usaha masyarakat.
Ketika sebuah makanan terus dibuat, sebenarnya ada pengetahuan budaya yang ikut dipertahankan.
Cara mengolah bahan, jenis rempah, teknik memasak, hingga cara menyajikannya merekam kebiasaan masyarakat dari masa ke masa.
Karena itu, mencicipi makanan lokal di Pentingsari bukan sekadar urusan mencari rasa enak. Pengunjung sekaligus mengenal bagian lain dari identitas desa.
Generasi Muda Menjadi Penjaga Budaya Pentingsari
Pelestarian budaya akan sulit bertahan tanpa regenerasi.
Hal inilah yang membuat keterlibatan generasi muda di Pentingsari menjadi penting. Situs resmi desa menyebut tradisi dan nilai lokal telah diperkenalkan kepada generasi muda sejak usia dini. Anak muda kemudian berkembang dari peserta menjadi pelaku dan penjaga tradisi.
Menariknya, regenerasi tersebut berjalan beriringan dengan teknologi.
Generasi muda tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti perkembangan zaman.
Di Pentingsari, mereka terlibat dalam kepemanduan wisata, organisasi pengelola, promosi, hingga digitalisasi sistem reservasi dan administrasi. Sekitar 70 persen kegiatan kepemanduan disebut dijalankan oleh generasi muda.
Situasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti menjaga semuanya tetap seperti dahulu.
Budaya bisa tetap mempertahankan nilai dasarnya sambil menggunakan metode baru untuk memperkenalkannya.
Gamelan tetap dimainkan, kenduri tetap dijalankan, tari tetap dipelajari, tetapi cerita tentang semuanya sekarang juga dapat menyebar melalui internet dan media digital.
Pariwisata Membantu Budaya Tetap Hidup
Pentingsari memberikan contoh menarik tentang hubungan antara budaya dan pariwisata.
Dinas Pariwisata DIY menyebut Pentingsari sebagai desa wisata yang memadukan potensi alam, kearifan lokal, aktivitas pertanian, kerajinan wayang suket, musik tradisional, serta pengalaman tinggal bersama masyarakat.
Model seperti ini membuat budaya memiliki ruang untuk terus dipraktikkan.
Seniman mempunyai kesempatan tampil dan mengajar. Pengrajin dapat memperkenalkan keterampilannya. Warga dapat menyajikan masakan tradisional. Generasi muda mendapat kesempatan menjadi pemandu sekaligus mempelajari sejarah dan budaya desanya.
Yang perlu dijaga tentu adalah keseimbangannya.
Budaya sebaiknya tidak semata-mata berubah menjadi pertunjukan karena tuntutan wisatawan. Nilai, makna, dan keterlibatan masyarakat lokal tetap harus menjadi bagian utamanya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Pentingsari sebagai desa wisata berbasis masyarakat, di mana aktivitas wisata dikelola langsung oleh warga dan tumbuh dari kehidupan lokal.
Seni dan budaya Desa Pentingsari tetap hidup karena masyarakat tidak hanya menyimpannya sebagai kenangan.
Gamelan dimainkan, tari tradisional diajarkan, kenduri masih dilakukan, sementara keterampilan membatik, membuat wayang suket, dan mengolah janur terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Yang membuat Pentingsari menarik adalah budaya tersebut menyatu dengan kehidupan masyarakat. Pariwisata kemudian menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sekaligus membantu menjaga keberlangsungannya.
Keterlibatan perempuan, seniman lokal, keluarga, dan generasi muda membuat warisan budaya desa mempunyai peluang lebih besar untuk terus bertahan.
Jika berkunjung ke Pentingsari, jangan hanya menikmati pemandangan lereng Merapi. Cobalah belajar gamelan, mengikuti kenduri, membuat kerajinan, atau tinggal bersama warga.
Dari situlah budaya Pentingsari paling terasa: bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dialami.
FAQ
1. Apa saja seni dan budaya yang ada di Desa Pentingsari?
Pentingsari memiliki beragam aktivitas budaya seperti gamelan, karawitan, tari tradisional, Tari Punokawan, membatik, wayang suket, kreasi janur, kenduri, serta berbagai kegiatan tradisional masyarakat.
2. Apakah wisatawan bisa belajar gamelan di Pentingsari?
Bisa. Belajar gamelan menjadi salah satu aktivitas wisata budaya yang tersedia dan dilakukan bersama masyarakat lokal.
3. Apa itu wayang suket?
Wayang suket adalah kerajinan berbentuk wayang yang dibuat dari rumput atau bahan sejenis. Di Pentingsari, kegiatan membuat wayang rumput menjadi salah satu aktivitas edukasi budaya bagi wisatawan.
4. Apakah kenduri masih dilakukan di Pentingsari?
Ya. Kenduri masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dan dilakukan dalam berbagai peristiwa seperti syukuran kelahiran, hasil panen, ternak, serta doa bersama.
5. Bagaimana generasi muda ikut melestarikan budaya Pentingsari?
Generasi muda terlibat sebagai pengelola, pemandu wisata, pelaku kegiatan budaya, sekaligus membantu digitalisasi dan promosi desa wisata. Mereka menjadi bagian penting dalam proses regenerasi tradisi lokal.
