Desa Wisata Pentingsari tidak hanya menarik karena panorama lereng Gunung Merapi, aktivitas pertanian, atau tradisi masyarakatnya.
Ada satu bagian penting yang ikut menggerakkan kehidupan desa ini, yaitu usaha-usaha kecil yang dikelola langsung oleh warga. UMKM lokal di Desa Pentingsari berkembang bersama aktivitas pariwisata.
Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari Kopi Madu Merapi, wedang rempah, olahan jamur, keripik ubi ungu, amplang lele, hingga Batik Badong. Dinas Pariwisata DIY mencatat usaha-usaha tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat Pentingsari.
Menariknya, produk lokal di sini tidak hanya diletakkan di rak untuk dijual sebagai oleh-oleh. Beberapa proses produksinya justru dijadikan pengalaman wisata.
Pengunjung dapat mengenal pengolahan kopi, jamur tiram, wedang rempah, tempe kedelai, ubi ungu, dan produk pangan lainnya langsung dari masyarakat.
Model semacam ini membuat UMKM dan pariwisata saling menguatkan. Wisatawan mendapatkan pengalaman baru, sementara masyarakat mempunyai pasar lebih luas untuk produk yang mereka hasilkan.
UMKM Tumbuh Bersama Desa Wisata Pentingsari
Perkembangan usaha masyarakat Pentingsari tidak bisa dilepaskan dari perjalanan desa wisatanya.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat bahwa Pentingsari pernah menjadi kawasan dengan kondisi ekonomi relatif rendah pada dekade 1990-an.
Masyarakat kemudian mulai mengembangkan desa wisata pada 2008 dengan tujuan memberikan nilai tambah bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya tanpa meninggalkan tradisi lokal.
Ketika wisatawan mulai berdatangan, kebutuhan pun semakin beragam.
Ada tamu yang membutuhkan makanan, minuman, suvenir, produk pertanian, homestay, hingga aktivitas edukasi. Kondisi tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai usaha rumahan.
Pada 2014, Jadesta mencatat lebih dari 70 persen masyarakat telah terlibat dalam aktivitas desa wisata. Saat itu terdapat puluhan orang yang bergerak dalam kuliner lokal dan industri rumahan, selain homestay, seni budaya, kepemanduan, serta usaha pendukung lainnya.
Perkembangannya terus berjalan. ANTARA Foto melaporkan bahwa pada 2024 Pentingsari memiliki tujuh UMKM yang terintegrasi dengan aktivitas desa wisata, bersama sekitar 80 homestay dan 200 warga yang menjadi bagian tim lapangan.
Pada tahun tersebut, jumlah kunjungan disebut mencapai lebih dari 29.000 wisatawan.
Artinya, UMKM bukan sekadar tambahan dalam pariwisata Pentingsari. Usaha masyarakat telah menjadi bagian dari ekosistem desa wisata itu sendiri.
1. Kopi Madu Merapi, Produk Lokal yang Punya Cerita
Salah satu nama yang cukup menonjol adalah Kopi Madu Merapi.
Produk ini mempunyai hubungan erat dengan perkebunan kopi masyarakat di kawasan Pentingsari dan lereng Merapi. Kini kopi tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk produk jadi, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi.
Media Center Pemerintah Kabupaten Sleman mencatat bahwa wisatawan dapat mengenal proses pengolahan kopi sekaligus menikmati produk lokal di Pentingsari.
Inilah salah satu contoh menarik bagaimana UMKM desa bisa menaikkan nilai hasil pertanian.
Buah kopi tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual setelah panen. Setelah melalui pengolahan, penyangraian, pengemasan, serta pemberian merek, nilainya bisa bertambah dan produknya menjadi lebih mudah dikenalkan kepada wisatawan.
Lebih menarik lagi, cerita tentang kopi dapat ikut dijual sebagai pengalaman.
Wisatawan bisa mengetahui bahwa sebelum secangkir kopi tersedia di meja, ada petani yang menanam dan merawat tanaman, proses panen, pengolahan pascapanen, hingga tahapan penyajian.
Pendekatan dari kebun ke cangkir seperti ini cocok dengan karakter Pentingsari yang memang mengandalkan wisata pengalaman.
2. Wedang Rempah, Dari Dapur Warga Menjadi Produk Wisata
Produk lain yang cukup dikenal adalah wedang rempah.
Dinas Pariwisata DIY memasukkan Wedhang Rempah sebagai salah satu UMKM yang berkembang di Pentingsari. Pemerintah Kabupaten Sleman juga mencatat produk wedang rempah tidak hanya berfungsi sebagai oleh-oleh, tetapi telah menjadi bagian dari pengalaman wisata desa.
Bahan-bahan seperti jahe, serai, secang, kayu manis, dan berbagai rempah mempunyai hubungan kuat dengan tradisi minuman Jawa.
Ketika dikemas menjadi produk siap seduh, bahan-bahan tersebut menjadi lebih praktis untuk dibawa pulang. Wisatawan tidak hanya dapat menikmatinya di Pentingsari, tetapi juga menyeduhnya kembali setelah perjalanan selesai.
Pengolahan wedang rempah bahkan masuk dalam kategori Pertanian & UMKM Lokal yang diperkenalkan oleh pengelola Desa Wisata Pentingsari.
Di sinilah terlihat bagaimana usaha rumahan bisa mendapatkan dua sumber nilai sekaligus.
Pertama adalah nilai produk yang dijual. Kedua adalah nilai pengalaman ketika proses pembuatannya dijadikan aktivitas edukasi bagi wisatawan.
3. Jamur, Ubi Ungu, Tempe, dan Amplang Lele
Tidak semua UMKM Pentingsari berkaitan dengan kopi atau minuman.
Masyarakat juga mengembangkan berbagai produk pangan yang berasal dari pertanian, budidaya, serta kreativitas rumah tangga.
Dinas Pariwisata DIY mencatat keberadaan Jamur Gin-Gin, Keripik Ubi Ungu, dan Amplang Lele dalam daftar UMKM yang berkembang di Pentingsari.
Sementara situs pengelola desa turut memasukkan jamur tiram, ubi ungu, tempe kedelai, dan amplang lele sebagai bagian dari aktivitas UMKM lokal.
Produk semacam ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki peranan penting bagi ekonomi desa.
Ubi, misalnya, bisa saja dijual sebagai bahan mentah. Namun ketika diolah menjadi keripik, produk mempunyai umur simpan lebih panjang, lebih praktis dibawa, serta dapat diberikan kemasan dan identitas merek.
Hal serupa terjadi pada ikan lele.
Selain dikonsumsi sebagai lauk, bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi amplang yang cocok dijadikan camilan atau buah tangan. Jamur tiram pun dapat diolah menjadi berbagai produk makanan sekaligus diperkenalkan melalui aktivitas budidaya.
Proses tersebut dikenal sebagai nilai tambah.
Bahan yang sebelumnya mempunyai bentuk dan pasar terbatas dikembangkan menjadi produk baru yang lebih mudah dipasarkan kepada wisatawan.
4. Batik Badong, UMKM Pentingsari di Bidang Kerajinan
UMKM Pentingsari tidak hanya bergerak dalam makanan dan minuman.
Ada pula produk kerajinan seperti Batik Badong. Dinas Pariwisata DIY memasukkan Batik Badong dalam daftar usaha lokal yang berkembang di desa ini.
Pada Juli 2025, ANTARA Foto juga mendokumentasikan penjualan Batik Badong sebagai produk UMKM Desa Wisata Pentingsari.
Keberadaan batik membuat ragam ekonomi kreatif Pentingsari semakin luas.
Wisatawan yang tidak ingin membawa makanan atau minuman dapat memilih produk kerajinan yang mempunyai masa pakai lebih panjang.
Batik juga mempunyai hubungan dengan aktivitas budaya Pentingsari karena desa ini menyediakan pengalaman belajar membatik sebagai bagian dari wisata budaya.
Ada efek yang menarik dari model tersebut.
Seseorang yang sebelumnya hanya ingin membeli produk bisa menjadi tertarik memahami proses pembuatannya. Sebaliknya, wisatawan yang pernah mencoba membatik sendiri biasanya akan lebih memahami mengapa sebuah kain membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan waktu.
Dengan demikian, kerajinan tidak hanya menjadi benda dagangan tetapi sekaligus media pengenalan budaya.
Pariwisata Menjadi Etalase bagi Produk Warga
Salah satu persoalan terbesar usaha kecil biasanya bukan hanya membuat produk, tetapi mencari pasar.
Pentingsari memiliki keuntungan karena wisatawan datang langsung ke desa.
Dinas Pariwisata DIY bahkan menyediakan kategori paket Kuliner dan UMKM yang memungkinkan pengunjung mencicipi produk tradisional serta melihat proses pembuatan produk lokal seperti kopi dan keripik.
Bayangkan perbedaannya.
Sebuah produk kopi yang dijual tanpa konteks mungkin hanya bersaing berdasarkan harga, kemasan, dan rasa. Namun ketika wisatawan datang ke Pentingsari, mengenal kebunnya, bertemu warga, lalu membeli kopi sebelum pulang, produk tersebut mempunyai cerita yang lebih personal.
Hal yang sama berlaku pada wedang rempah, keripik, batik, maupun produk lainnya.
Desa wisata akhirnya berfungsi seperti sebuah etalase besar bagi usaha masyarakat.
Wisatawan datang karena ingin menikmati alam dan budaya, tetapi selama perjalanan mereka juga mengenal produk lokal. Sebaliknya, produk UMKM membantu memperkaya pengalaman yang ditawarkan desa wisata.
Hubungan inilah yang membuat keduanya bisa berkembang bersama.
UMKM Membuat Manfaat Pariwisata Lebih Menyebar
Pengembangan UMKM juga penting karena manfaat pariwisata tidak seharusnya hanya diterima satu atau dua pelaku usaha.
Model Pentingsari sejak awal memang dirancang dengan partisipasi masyarakat. Jadesta menjelaskan bahwa masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama atau subjek dalam pengembangan desa wisata, bukan sekadar objek yang dilihat wisatawan.
Dinas Pariwisata DIY juga menyebut pengelolaan Pentingsari melibatkan Pokdarwis agar masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas wisata.
Dengan pola tersebut, satu rombongan wisatawan bisa menghasilkan perputaran ekonomi di banyak titik.
Tamu mungkin membayar paket wisata, menggunakan pemandu lokal, makan masakan warga, menginap di homestay, membeli kopi, membawa keripik sebagai oleh-oleh, kemudian membeli batik.
Uang wisatawan akhirnya tidak hanya berhenti di satu loket.
Model seperti ini menjadi salah satu kekuatan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism. Semakin banyak masyarakat terlibat dalam rantai wisata, semakin besar peluang manfaat ekonominya tersebar.
Tantangan UMKM Pentingsari di Era Digital
Walaupun potensinya besar, UMKM desa tetap mempunyai tantangan.
Secara nasional, Kementerian UMKM menempatkan standardisasi, inovasi, digitalisasi, akses pembiayaan, perluasan pasar, serta kemitraan sebagai beberapa tantangan penting dalam meningkatkan daya saing usaha kecil.
Hal tersebut relevan pula untuk usaha lokal di desa wisata.
Produk yang enak belum tentu mudah dijual jika kemasannya kurang menarik. Produk yang bagus juga sulit berkembang jika konsumen tidak tahu bagaimana membelinya setelah pulang dari Pentingsari.
Karena itu, peluang berikutnya terletak pada pemasaran digital, pencatatan usaha yang lebih rapi, peningkatan kualitas kemasan, legalitas dan sertifikasi yang sesuai, serta penguatan merek.
Pentingsari sendiri telah menerima berbagai bentuk pendampingan. ANTARA mencatat desa ini menjadi binaan Bakti BCA sejak 2015 dengan dukungan yang antara lain menyentuh pengembangan homestay, pelatihan pengelolaan pariwisata, serta pemasaran digital.
Namun teknologi tetap sebaiknya menjadi alat, bukan menggantikan karakter lokal.
Kekuatan terbesar UMKM Pentingsari justru berasal dari cerita petani, keluarga, resep rumahan, hasil bumi, kerajinan, dan suasana kehidupan masyarakat lereng Merapi.
Cara Mendukung UMKM saat Berkunjung ke Pentingsari
Cara termudah tentu membeli langsung produk masyarakat.
Ketika berada di Pentingsari, tanyakan kepada pemandu mengenai UMKM yang sedang aktif dan produk yang tersedia. Kopi Madu Merapi, wedang rempah, keripik ubi ungu, olahan jamur, amplang lele, maupun batik dapat menjadi pilihan sesuai ketersediaan saat kunjungan.
Produk-produk tersebut memang tercatat sebagai bagian dari ekosistem UMKM Pentingsari. Namun mendukung usaha lokal sebenarnya tidak harus berhenti pada pembelian.
Mengikuti kegiatan pengolahan kopi atau wedang, belajar membatik, membagikan pengalaman secara wajar di media sosial, serta merekomendasikan produk yang memang disukai juga dapat membantu memperluas pengenalan terhadap usaha warga.
Yang penting, lihat UMKM bukan hanya sebagai tempat membeli oleh-oleh.
Di balik satu bungkus kopi atau keripik ada petani, pengolah, keluarga, dan masyarakat yang mencoba menciptakan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan identitas desanya.
UMKM lokal di Desa Pentingsari menjadi bagian penting dari perjalanan desa ini sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.
Kopi Madu Merapi, wedang rempah, Jamur Gin-Gin, keripik ubi ungu, amplang lele, Batik Badong, serta berbagai olahan pertanian menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memberikan nilai tambah pada sumber daya lokal.
Yang membuatnya menarik adalah hubungan erat antara produk dan pengalaman wisata. Pengunjung tidak sekadar membeli barang, tetapi dapat mengenal proses, bertemu masyarakat, dan memahami cerita di balik produk tersebut.
Saat berkunjung ke Pentingsari, sisihkan ruang dalam tas untuk membawa produk lokal.
Membeli langsung dari pelaku UMKM bukan hanya soal mendapatkan oleh-oleh, tetapi juga menjadi cara sederhana ikut menjaga agar manfaat pariwisata tetap berputar di tengah masyarakat lereng Merapi.
FAQ
1. Apa saja UMKM yang ada di Desa Pentingsari?
Dinas Pariwisata DIY mencatat antara lain Wedhang Rempah, Kopi Madu Merapi, Jamur Gin-Gin, Keripik Ubi Ungu, Amplang Lele, dan Batik Badong sebagai UMKM yang berkembang di Pentingsari.
2. Apakah ada produk kopi lokal di Pentingsari?
Ya. Salah satu yang dikenal adalah Kopi Madu Merapi. Produk ini juga dikembangkan menjadi bagian dari wisata edukasi pengolahan kopi di Pentingsari.
3. Bisakah wisatawan mengunjungi atau belajar dari UMKM?
Bisa. Pentingsari menyediakan kegiatan yang berkaitan dengan pengolahan kopi, jamur tiram, wedang rempah, ubi ungu, tempe kedelai, dan beberapa produk lokal lainnya.
4. Apakah ada kerajinan selain produk makanan?
Ada. Batik Badong tercatat sebagai salah satu produk UMKM lokal Pentingsari, sementara belajar membatik juga menjadi bagian dari aktivitas budaya desa.
5. Mengapa UMKM penting bagi Desa Wisata Pentingsari?
UMKM memperluas manfaat ekonomi pariwisata karena wisatawan tidak hanya membayar aktivitas wisata, tetapi juga dapat membeli makanan, minuman, dan kerajinan yang dibuat masyarakat. Pengembangan Pentingsari sendiri sejak awal menempatkan warga sebagai pelaku utama pariwisata.
