Kalau mendengar wisata lereng Gunung Merapi, yang terbayang mungkin jeep, jalur lava, atau panorama gunung dari kejauhan.
Namun ada cara yang lebih tenang untuk mengenal kawasan ini: berjalan menyusuri sungai, melewati sawah, belajar bertani, menginap bersama warga, dan melihat bagaimana masyarakat menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.
Pengalaman tersebut bisa ditemukan melalui Ekowisata Pentingsari di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Pentingsari berada sekitar 12,5 kilometer dari puncak Merapi dan pada ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut.
Desa wisata ini mengusung tema budaya dan pertanian berwawasan lingkungan, dengan aktivitas yang menghubungkan wisatawan dengan alam, pertanian, perkebunan, serta kehidupan sosial masyarakat.
Menariknya, ekowisata di sini tidak berarti wisatawan hanya diajak menikmati pemandangan hijau. Masyarakat menjadi pelaku utama, sementara sawah, sungai, kebun, tradisi, dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari pengalaman.
Itulah yang membuat Pentingsari menarik: alam tidak hanya menjadi latar foto, tetapi menjadi ruang untuk belajar.
Mengenal Konsep Ekowisata Pentingsari
Secara sederhana, ekowisata merupakan kegiatan wisata yang memberikan ruang besar bagi alam, pendidikan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat setempat.
Di Pentingsari, prinsip tersebut terlihat dari cara desa menggabungkan alam, budaya, pertanian, dan lingkungan dalam paket wisatanya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Gadjah Mada Journal of Tourism Studies mencatat bahwa aktivitas wisata Pentingsari dikembangkan dengan memanfaatkan lanskap sungai, lahan pertanian, perkebunan, serta budaya masyarakat.
Wisatawan juga dilibatkan dalam aktivitas seperti menanam kopi dan padi dengan tujuan memperkenalkan konservasi serta keberlanjutan lingkungan.
Pendekatannya berbeda dari objek wisata buatan yang harus membangun wahana baru.
Sawah tetap menjadi tempat bertani. Sungai tetap mempunyai fungsi ekologis. Rumah warga digunakan sebagai homestay, sementara masyarakat menjadi pemandu, penyedia kuliner, pelaku seni, dan pengelola kegiatan wisata.
Situs resmi Pentingsari bahkan menegaskan bahwa wisata yang mereka kembangkan berbasis alam dan berkelanjutan, dengan perhatian terhadap sungai serta lingkungan desa.
Menyusuri Sungai Kuning dan Lanskap Pedesaan
Salah satu pengalaman alam yang paling mudah dikenali di Pentingsari adalah trekking Sungai Kuning.
Secara geografis, kawasan Pentingsari berada di antara Sungai Kuning dan Sungai Pawon. Kondisi ini memberikan bentuk lanskap yang cukup unik, sekaligus membuat lingkungan sungai menjadi bagian penting dari kehidupan dan aktivitas wisata masyarakat.
Pengelola desa menawarkan kegiatan jelajah atau trekking Sungai Kuning, di mana wisatawan dapat berjalan menyusuri aliran air sambil menikmati suasana pedesaan. Aktivitas alam lainnya mencakup bermain air dan kegiatan berlumpur yang dikemas sebagai wisata ringan.
Tidak perlu membayangkan trekking seperti pendakian ekstrem.
Daya tariknya justru terletak pada kesempatan berjalan lebih lambat, memperhatikan pepohonan, air, lahan pertanian, dan kondisi desa dari dekat.
Pengalaman semacam ini cocok untuk wisatawan yang ingin keluar dari suasana perkotaan tanpa harus melakukan perjalanan alam yang terlalu berat.
Bagi rombongan sekolah, jalur alam juga bisa menjadi ruang belajar. Anak-anak dapat memahami bahwa sungai bukan sekadar tempat bermain, tetapi bagian dari lingkungan yang perlu dijaga.
Sawah dan Kebun Menjadi Ruang Belajar
Ekowisata Pentingsari juga sangat dekat dengan agrowisata.
Situs resmi desa mencantumkan menanam padi dan membajak sawah sebagai aktivitas pertanian. Wisatawan juga dapat mengenal pengolahan kopi, jamur tiram, pemerahan susu sapi, serta berbagai hasil pertanian dan UMKM lokal.
Aktivitas tersebut membuat wisatawan bukan sekadar penonton.
Saat mencoba menanam padi, misalnya, peserta mulai memahami bahwa beras tidak tiba-tiba tersedia di pasar. Ada lahan yang harus diolah, bibit yang ditanam, tanaman yang dirawat, dan petani yang bekerja sebelum hasil panen dapat dinikmati.
Penelitian mengenai pengembangan wisata berkelanjutan di Pentingsari juga mencatat keberadaan kebun tradisional yang digunakan untuk membudidayakan tanaman lokal sekaligus menjadi media wisata, termasuk kegiatan menanam kopi dan padi.
Inilah kekuatan wisata pertanian.
Lahan produktif tidak harus diganti menjadi wahana buatan untuk menghasilkan manfaat dari pariwisata. Pertanian tetap berjalan, tetapi prosesnya sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi pengunjung.
Wisata Berbasis Masyarakat Menjadi Kunci Pentingsari
Ekowisata tidak hanya membicarakan pohon dan sungai. Ada unsur lain yang tidak kalah penting, yaitu masyarakat yang hidup di dalam kawasan tersebut.
Pentingsari berkembang dengan konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Situs resminya menyatakan seluruh aktivitas wisata dijalankan langsung oleh warga lokal.
Jadesta Kementerian Pariwisata juga mencatat bahwa sejak pengembangan desa wisata dimulai pada 2008, masyarakat sengaja ditempatkan sebagai pelaku utama.
Tujuannya agar pembangunan pariwisata memberi nilai tambah secara sosial, ekonomi, dan budaya tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Model tersebut terlihat dalam banyak kegiatan.
Rumah warga menjadi homestay. Petani mengenalkan aktivitas pertanian. Pemuda dapat menjadi pemandu. Kelompok masyarakat menyediakan kuliner, produk UMKM, kerajinan, maupun aktivitas budaya.
Dinas Pariwisata DIY menjelaskan bahwa pengelolaan Pentingsari melibatkan masyarakat melalui Pokdarwis, termasuk dalam proses perencanaan hingga evaluasi kegiatan wisata.
Dengan begitu, manfaat wisata tidak hanya berasal dari tiket masuk. Uang yang dibelanjakan pengunjung dapat berputar melalui homestay, makanan, pemandu, pertanian, maupun produk warga.
Menjaga Kebersihan Menjadi Bagian dari Kehidupan Desa
Lingkungan yang asri tentu tidak bisa dipertahankan hanya dengan slogan wisata hijau.
Di Pentingsari, pengelola mencatat adanya kegiatan rutin masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Ibu-ibu melakukan Jumat Bersih dengan membersihkan jalan dan lingkungan sekitar rumah, sedangkan gotong royong bersih desa dilakukan secara berkala dengan membersihkan saluran air, tepian sungai, jalan, dan area publik.
Hal ini menarik karena memperlihatkan bahwa kebersihan tidak hanya dilakukan ketika wisatawan datang.
Menurut pengelola desa, kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari budaya gotong royong masyarakat. Kebersihan lingkungan dipandang sebagai kepentingan warga sekaligus bagian dari keberlanjutan desa wisata.
Bagi wisatawan, ada pelajaran sederhana dari sini.
Datang ke destinasi berbasis alam berarti ikut bertanggung jawab menjaganya. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman, mengikuti jalur yang diarahkan pemandu, dan menghormati sumber air merupakan tindakan kecil tetapi penting.
Ekowisata akan kehilangan makna kalau pengunjung datang untuk menikmati alam tetapi justru meninggalkan kerusakan.
Alam, Budaya, dan Pertanian Tidak Dipisahkan
Hal menarik lainnya adalah Pentingsari tidak memisahkan wisata alam dari kehidupan budaya.
Setelah trekking sungai, wisatawan dapat belajar gamelan. Seusai bermain di sawah, perjalanan bisa dilanjutkan dengan membatik, membuat wayang suket, mengenal kenduri, atau mencoba kuliner masyarakat.
Situs resmi desa menempatkan alam, budaya, pertanian, dan UMKM dalam pengalaman yang saling melengkapi.
Model tersebut masuk akal karena kehidupan desa memang tidak berjalan dalam kotak-kotak terpisah.
Sawah berhubungan dengan makanan. Kebun berkaitan dengan mata pencaharian. Sungai berhubungan dengan lingkungan. Tradisi tumbuh di tengah masyarakat yang hidup dari alam tersebut.
Kajian UGM mengenai Pentingsari bahkan menyebut kombinasi nature, culture, agriculture, and environment sebagai bagian penting dari identitas destinasi ini.
Jadi, ketika datang ke Pentingsari, pengalaman terbaik bukan hanya melihat satu objek lalu pulang.
Luangkan waktu untuk memahami bagaimana berbagai unsur tadi saling berhubungan.
Pengakuan sebagai Desa Wisata Berkelanjutan
Upaya Pentingsari mengembangkan pariwisata berkelanjutan telah memperoleh sejumlah pengakuan.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mencatat Pentingsari memperoleh Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Konsep berkelanjutan yang digunakan dalam penilaian tersebut tidak hanya melihat manfaat ekonomi, tetapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan.
Dinas Pariwisata DIY juga mencatat Pentingsari pernah masuk dalam Green Destinations Top 100 pada 2019.
Penghargaan tentu bukan berarti tantangan lingkungan selesai.
Justru semakin dikenal sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk mengelola kunjungan dengan hati-hati.
Sampah, penggunaan air, perubahan fungsi lahan, tekanan terhadap sungai, serta kemungkinan budaya lokal berubah hanya demi memenuhi keinginan wisatawan tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Karena itu, keberhasilan ekowisata seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang datang.
Kondisi lingkungan dan manfaat yang diterima masyarakat lokal sama pentingnya.
Pentingsari untuk Wisata Edukasi dan Keluarga
Karakter Pentingsari membuatnya cocok untuk wisata yang menggabungkan rekreasi dan pembelajaran.
Dinas Pariwisata DIY mencatat pilihan kegiatan di desa ini mencakup wisata alam, pertanian dan perkebunan, edukasi budaya, live-in, hingga program untuk keluarga dan anak-anak.
Anak-anak bisa belajar mengenai tanaman melalui sawah dan kebun. Remaja dapat mencoba trekking atau kegiatan kelompok. Sementara orang dewasa dapat mengenal pertanian, produk UMKM, serta kehidupan masyarakat desa.
Untuk pengalaman yang lebih dalam, wisatawan juga dapat menginap di homestay warga.
Situs resmi Pentingsari menyatakan homestay dikelola oleh masyarakat lokal, sehingga menginap memberikan kesempatan lebih besar untuk mengenal kehidupan dan budaya masyarakat.
Alih-alih datang pagi dan langsung pulang sore, menginap membuat perjalanan berjalan lebih lambat. Ada waktu untuk berjalan di kampung, berbicara dengan tuan rumah, mencoba makanan lokal, dan memperhatikan kehidupan desa ketika tidak sedang ada aktivitas wisata terjadwal.
Tips Menikmati Ekowisata Pentingsari dengan Bertanggung Jawab
Sebaiknya datang dengan pakaian nyaman dan alas kaki yang sesuai untuk aktivitas luar ruangan. Jika mengikuti trekking sungai, sawah, atau permainan lumpur, bawalah pakaian ganti.
Jangan meninggalkan sampah di jalur trekking, sungai, atau lahan pertanian. Ikuti arahan pemandu lokal karena sebagian area yang dilewati merupakan ruang hidup dan tempat masyarakat bekerja, bukan taman wisata yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan warga.
Jika ingin mengikuti paket tertentu, lakukan reservasi lebih dahulu. Pengelola Pentingsari menyebut paket wisata dapat disesuaikan untuk sekolah, komunitas, perusahaan, maupun rombongan lainnya, sementara jenis kegiatan dapat berbeda sesuai kebutuhan peserta.
Terakhir, manfaatkan kesempatan untuk membeli produk lokal.
Kopi, wedang rempah, kerajinan, makanan, atau produk UMKM lainnya membuat sebagian pengeluaran perjalanan langsung masuk ke aktivitas ekonomi masyarakat. Cara sederhana tersebut ikut mendukung prinsip pariwisata berbasis komunitas yang menjadi fondasi Pentingsari.
Ekowisata Pentingsari di lereng Gunung Merapi menunjukkan bahwa menikmati alam tidak selalu membutuhkan wahana besar.
Sungai, sawah, kebun, rumah warga, tradisi, dan kehidupan sehari-hari justru menjadi daya tarik utama ketika semuanya dikelola dengan pendekatan berbasis masyarakat.
Wisatawan dapat trekking di Sungai Kuning, belajar menanam padi, mengenal perkebunan, menikmati budaya Jawa, hingga tinggal di homestay masyarakat.
Di saat yang sama, warga terus menjalankan gotong royong untuk menjaga kebersihan dan lingkungan desa.
Kalau ingin mencari sisi Merapi yang lebih tenang dan dekat dengan kehidupan masyarakat, Pentingsari layak dimasukkan ke dalam itinerary.
Datanglah bukan hanya untuk menikmati alamnya, tetapi juga untuk belajar bagaimana wisata, pertanian, budaya, dan lingkungan dapat tumbuh bersama.
FAQ
1. Apa yang dimaksud Ekowisata Pentingsari?
Ekowisata Pentingsari adalah pengalaman wisata berbasis alam, pertanian, budaya, dan masyarakat di lereng Merapi. Kegiatannya dirancang untuk mengenalkan lingkungan sekaligus mempertahankan keterlibatan warga sebagai pelaku utama pariwisata.
2. Apa saja aktivitas alam yang bisa dilakukan?
Pengunjung dapat mengikuti trekking Sungai Kuning, bermain air, menjelajahi desa, serta menggabungkannya dengan aktivitas sawah dan pertanian.
3. Apakah Pentingsari cocok untuk wisata edukasi anak?
Ya. Aktivitas pertanian, alam, budaya, dan kehidupan desa membuat Pentingsari cocok untuk rombongan sekolah maupun keluarga yang ingin belajar melalui pengalaman langsung.
4. Apakah wisatawan dapat menginap di Pentingsari?
Bisa. Tersedia homestay yang dimiliki dan dikelola masyarakat lokal, sehingga wisatawan dapat mengenal kehidupan desa dengan lebih dekat.
5. Apakah Pentingsari termasuk desa wisata berkelanjutan?
Ya. Pentingsari pernah memperoleh Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan, dengan pengembangan yang mempertimbangkan manfaat ekonomi, pelestarian sosial budaya, serta lingkungan.